ragam bahasaPertanyaan itu sungguh menggelitik. Mengingatkan banyak hal tentang peran bahasa dalam kehidupan keseharian manusia. Tanpa bahasa -lisan atau tulisan- manusia seakan terhenti, tidak berperadaban, atau setidaknya sulit saling berhubungan. Bahasa menjadi penanda kesadaran manusia yang berfungsi untuk mengutarakan, mengungkap dan menyampaikan kesadaran atau pemahaman tertentu manusia. Bahasa bukanlah sesuatu yang terbentuk dengan proses yang singkat. Bukan pula menjadi suatu yang seragam meski serumpun. Itulah bahasa, berkembang sesuai dengan kebudayaan dan situasi lokal di mana ia muncul dan berkembang.

Sejak 18 Agustus 1945 Bahasa Indonesia disahkan menjadi bahasa negara. Termaktub pada pasal 36 Undang-udang Dasar 1945, Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dipilih sebagai bahasa pemersatu unit-unit kesukuan, kebangsaan dan teritorial Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia? Peran Bahasa Indonesia sangat sentral sejak perjuangan kemerdekaan hingga dewasa ini. Bahasa Indonesia berperan seperti Bahasa Inggris di dunia internasional: menghubungkan antar kebudayaan dalam komunikasi dan pertukaran pengetahuan. Pentingnya bahasa pemersatu inilah yang mendorong kongres pemuda Indonesia tahun 1928 untuk mendeklarasikan adanya bahasa pemersatu yang digunakan bersama sebagai sebuah alat politik pemersatu sekaligus penghubung antar kebudayaan di Nusantara. Semangat tersebut dapat dipahami jika mengacu pada data yang berkembang setelahnya bahwa Indonesia adalah bentangan satuan politik dan budaya yang terdiri dari 17.504 pulau. Bentangan geografis ini tentu mewakili keragaman budaya, termasuk bahasa.

Seberapa kayakah bahasa lokal Indonesia? Mengacu pada data Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan dan Pariwisata, Indonesia memiliki 442 bahasa daerah atau lokal. Data yang diperoleh melalui penelitian antara tahun 2006-2008 tersebut berbeda dengan data yang dimunculkan oleh Summer Institute of Lingustic (SIL) yang menyebut Indonesia memiliki 743 bahasa daerah. Data keduanya menunjukkan kekayaan bahasa daerah yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Nyaris tidak ada negara di dunia yang memiliki kompleksitas dan keragaman bahasa, seperti Indonesia.

Bahasa daerah di Indonesia terdiri berasal dari 22 rumpun besar bahasa. Rumpun inilah yang melahirkan jenis dan ragam bahasa yang cukup beragam. Sebaran bahasa ini menunjukkan ragam kebudayaan yang sangat kaya dari bangsa ini. Bahasa sebagai sebuah wujud tampak (etos) kebudayaan dengan keragamannya di Indonesia, menunjukkan kekayaan kebudayaan itu sendiri. Beberapa daerah, seperti Kalimantan, Papua, Sulawesi, kepulauan Maluku dan Nusatenggara adalah beberapa wilayah yang sangat kaya akan jenis bahasa. Di Kalimantan, tercatat tidak kurang dari 74 ragam bahasa berbeda yang digunakan. Papua bagian timur memiliki tak kurang dari 272 jenis bahasa, sementara Papua bagian Barat memiliki 62 Jenis bahasa. Pulau Sulawesi tercatat memiliki 114 jenis bahasa lokal. Keberadaan Bahasa yang sangat beragam ini menunjukkan bahwa kebudayaan Nusantara berkembang dengan keragaman yang sangat luas. Bahasa tidak hanya menunjukkan bagaimana suatu kelompok bertutur atau berkomunikasi, melainkan juga menunjukkan ekspresi kebudayan tertentu. Keragaman ini adalah indikator ekspresi kebudayaan yang sangatlah kaya.

Kepunahan bahasa adalah ancaman yang terus mengikuti kekayaan ragam bahasa. Hal ini mungkin sedang dimulai karena banyak terdapat sistem pendidikan yang mengharuskan penggunaan bahasa Inggris menggatikan bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia, yang seakan-akan mengucilkan penggunaan bahasa daerah yang sudah jarang diajarkan kepada para peserta didik. Miris sekali kalau kita bayangkan keanekaragaman bahasa akankah tergantikah oleh bahasa universal?

Kepunahan itu dimulai dari anak-anak sekarang yang kurang bisa berbahasa daerah tapi lebih fasih dengan bahasa luar negeri, peristiwa itu tidak sulit kita temukan dimasyarakat bahkan media elektronik lainnya. Dikhawatirkan saat ini, 169 jenis bahasa lokal akan punah. Hal tersebut salah satunya diungkap oleh Multamia Rauder, Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Ancaman kepunahan bahasa tersebut tidak hanya disebabkan oleh peralihan penggunaan bahasa, tetapi juga menghilangnya penutur asli bahasa tersebut. Beberapa bahasa, seperti Lom (Sumatera) hanya menyisakan 50 penutur; Budong-budong (Sulawesi) hanya menyisakan 70 penutur; dan Bahasa Hukumina (Maluku) hanya menyisakan satu penutur saja. Selain ketiga bahasa tersebut, sederet bahasa masuk dalam daftar terancam punah.

Kekayaan bahasa ini merupakan sebuah modal sosial yang juga mengandung tantangan. Tantangan terbesar pada soal keragaman bahasa ini terkait dengan kelestarian masing-masing bahasa. Idealnya, penggunaan bahasa Indonesia yang bertujuan untuk menghubungkan masyarakat antar kebudayaan di Indonesia, tidak menyebabkan kepunahan bahasa lokal atau daerah. Sudah menjadi kewajiban semua pihak untuk turut menjaga kekayaan kebudayaan Indonesia ini. Tentu tidak seorang pun ingin suatu ketika kelak jenis keragaman bahasa ini hanya menjadi sejarah yang tidak bisa terus dipertahankan. Pemerintah, masyarakat pemilik bahasa, dan seluruh masyarakat Indonesia lain berkewajiban sama untuk melestarikan ragam kekayaan bahasa ini. Pendokumentasian, kampanye penggunaan bahasa lokal hingga pemasukan pelajaran bahasa lokal ke dalam kurikulum dan rencana strategis pendidikan menjadi kian dibutuhkan. Akankah strategi pendididkan yang mendatang akan mempertimbangkan pemakaian bahasa daerah yang terancam punah?
“Belajar bahasa dimulai dari bahasa daerah kemudian bahasa Indonesia apabila sudah fasih barulah belajar bahasa luar dan jangan sampai sebaliknya,
Saat anda belajar bahasa daerah maka anda telah menjaga dan melestarikan budaya dan bahasa bangsa Indonesia”

Terimakasih saya ucapkan sebagai penulis, kepada semua orang maupun organisasi yang masih menjaga bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: