cinta sejatiqTak butuh keindahan wajahmu melainkan keindahan cinta dalam hati

Kau yang sering kulihat tidak dengan mataku. Kau yang sering kudengar tidak dengan telingaku. Kau yang tak pernah kusentuh pipimu dengan kulit tanganku. Kau yang tak sempurna itu: kau selalu kulihat, kudengar dan kusentuh pipimu dengan anganku. Kau adalah wanita yang bukan wanita kebanyakan.

Wajahmu, menampakkan kecantikan. Kecantikan yang karena memang begitu adanya. Tak direka atau dimanipulasi. Alamiah. Apa adanya. Kecantikan yang tidak kau minta: hadir begitu saja, mengikuti kehadiranmu di muka bumi. Kau miliki anugerah kecantikan itu, walau bukan yang tercantik. Namun bukankah kecantikan itu sesuatu yang tak mutlak? Bisa jadi kau tampak cantik bagiku, tapi bagi yang lain mugkin tidak. Walaupun saat ini iklan di TV, koran, majalah dan lainnya telah menyeragamkan kecantikan dengan syarat-syaratnya. Iklan itu menetapkan bahwa cantik itu harus sama dengan putih, langsing, atau berambut panjang hitam, lurus dan lebat. Tapi sudahlah, kecantikan yang berupa penampakan itu bukanlah kecantikan yang terlalu penting (jika bukan tak penting). Ku perhatikan, banyak wanita cantik. Bahkan lebih cantik darimu. Tapi cantik yang direka. Cantik yang dibuat sedemikian rupa supaya nampak cantik. Mereka, wanita kebanyakan itu, menutupi wajahnya dengan bedak yang “menampakkan” kecantikan. Mereka juga menutupi bibirnya dengan lipstik berwarna merah tua, merah muda, tebal atau tipis agar “tampak” manis. Mereka juga menutupi kuku-kuku mereka dengan kutek agar “tampak” lembut dan menarik. Mereka tak makan ini dan itu untuk mencegah datangnya kejelekan (makhluk yang sangat menakutkan bagi mereka). Sedangkan kamu, hanya menggunakan pakaian yang sederhana untuk menutupi tubuhmu, agar tubuh itu terlindung dari mata liar para lelaki yang tak tau malu (aku pun termasuk lelaki tak tau malu itu). Kau bungkus tubuh itu bukan supaya tubuhmu yang sebenarnya terlapisi oleh “kecantikan rekaan” itu. Tidak. Kamu melakukan itu hanya untuk melindungi, bukan memamerkan. Mungkin kamu juga menggunakan bedak. Tapi bedakmu ala kadarnya saja, tak berlebih (itu menurut penglihatanku yang tak mengerti tentang perlengkapan kaum wanita).

Kamu jelas tak sempurna. Gigimu tak sempurna. Kulitmu tak sempurna. Bibirmu tak sempurna. Bentuk tubuhmu tak sempurna. Tapi manis (biarlah aku menyebutmu dengan sebutan ini, walaupun hanya untukku saja, kamu tak perlu mengetahui panggilan ini), kamu memiliki sesuatu yang sangat memikat mata dan hati. Setidaknya mata dan hatiku. Yaitu ketakpedulianmu pada kecantikan rekaan itu. Seandainya kamu menggunakan bedak, lipstik, atau kutek layaknya mereka, mungkin kamu juga akan tampak lebih cantik seperti mereka yang kebanyakan itu. Namun cantik yang rekaan.

Tapi lihatlah dirimu. Kamu tidak melakukan itu. Kamu tetap menampilkan dirimu sebagaimana dirimu yang tak peduli dengan rekaan kecantikan. Bahkan kamu tak segan menantang teriknya matahari yang selalu mengancam kehalusan kulitmu. Kau tak takut dengan debu dan lumpur yang akan membuatmu kotor. Kau hadapi semua penteror kecantikan itu dengan gagah berani, hingga para penteror itu jenuh untuk menerormu.

Lihatlah manis, kecantikan yang tak kau hiraukan itu memang tak ada artinya. Mungkin saja dia berarti bagi mereka yang kebanyakan, tapi keberartiannya sangatlah lemah. Keberartiannya sangat terikat pada ruang dan waktu. Keberartian itu akan pudar seiring keriput di pipinya mulai muncul, perutnya yang langsing mulai buncit, giginya mulai tak lengkap, atau rambutnya mulai memutih dan rontok. Akhirnya, mereka akan mulai khawatir dan muncullah kegelisahan-kegelisahan tak bermakna.

Hey manis, pernahkah kau lihat seorang wanita tua yang sedang mengangkat kayu? Atau wanita gemuk setengah baya yang tubuhnya lengket oleh keringat karena sedang menjajakan jualannya? Atau wanita kurus dengan kulit hitam legam oleh sengatan panas matahari karena setia bercocok tanam di kebun dan sawahnya demi keluarganya? Bukankah mereka jauh lebih cantik dari wanita kebanyakan yang sibuk me-reka kecantikannya? Kecantikan mereka murni. Tak mudah basi. Kamu pun begitu. Kecantikanmu bukan kecantikan yang mudah terdekomposisi oleh mengkriputnya kulit pipi, buncinya perut, tak lengkapnya gigi pada gusi, serta memutih dan rontoknya rambut di kulit kepala.

Kau adalah manusia yang tak sempurna. Namun manis dan cantik. Cantik yang sebenarnya.

Iklan

Comments on: "Cinta Sejati dari Hatiku" (3)

  1. Thanks so much for your article post.Much thanks once more. Truly Awesome.

  2. 移動電源

    Just wish to say what an excellent blog you got here!I’ve been around for quite a great deal of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

  3. 9000mah行動電源

    I spend a go to each day some blogs and sites to read content material, but this website gives function based articles.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: