Keindahanmu Yang Suci

Angin berhembus semilir ketika pribadi anggun hinggap di dalam dahan hati, menyentuh kulit ari, dan menembus dinding-dinding batu penjaga samudera kalbu, menggetarkan tembok jiwa, dan mengguncangkan lautan diri.

Diriku gugup sehingga tak berani aku melihat sesuatu yang kuinginkan, lisanku gagap sehingga aku tak punya nyali untuk menyampaikan sesuatu.

Kelebatan bayangan Gibran memandang Selma dengan mata berkaca-kaca, seolah menjadi bayangan diri kala melihat dia. Jari Jemari takdir telah menggerakkan benang-benang nasib di tubuhku, seperti panggung opera boneka di Eropa, bagaimana bisa aku berpaling darinya? Sampan di dayung lembut mengalir melalui sungai-sungai venesia, kereta kuda berketipak ketipuk, berjalan perlahan melalui taman-taman London, cahaya rembulan menyinari jalan-jalan yang terlalui. Senandung lembut musik Bethooven mengantarkan hangatnya sang cahaya, berjumpa dengan dentingan Chopin menyinari wajah kota-kota, dan nada-nada Bach menggandengkan hati-hati yang berbahagia.

Gibran berkata,
“Cinta adalah cahaya, yang ditulis dengan cahaya, di atas kota yang bercahaya”
Sungguh… Malam itu begitu menggetarkan, begitu mencemaskan, begitu menegangkan, begitu menakutkan, tapi juga begitu membahagiakan. Ampuni aku, Yaa Allah, yang telah mencoba menenggelamkan diriku sendiri di dalam lautan cinta karena-Mu, dan bukan mengikuti kehendak-Mu untuk tenggelam dalam samudra cinta karena-Mu.

Ketika aku bilang kamu sempurna itu bukan karena alasan, memang kesempurnaan hanyalah milik Allah tapi kamu adalah seorang wanita sempurna yang diibaratkan setangkai mawar berduri, dan kesempurnaan mawar adalah pada durinya, semua kisah, puisi, syair dari klasik hingga post modern memberi tajuk “mawar berduri” untuk gambaran kesempurnaan bunga. Jadilah seperti mawar yang berduri, Jadilah bunga mawar yang indah berpagarkan duri Jangan biarkan dirimu menjadi sembarangan bunga yang tetap juga indah tetapi,sayang tidak berduri, Apabila tidak berduri , tiada lagi benteng yang boleh melindungi keindahan si bunga daripada sewenang-wenangnya didekati sang kumbang. Lantas, tercemarlah keindahan dan murahlah nilainya. Duri mawar itulah ditasbihkan dengan perbatasan aurat, akhlak dan al-haya’. Dengan pagaran duri itu, kilauan warnanya semakin memancar indah dan harum aromanya menyelinap di segenap naluri yang mengundang kekaguman di hati sang kumbang hinggakan sang kumbang berfikir beberapa kali untuk mendekati. Jadilah mawar berduri yang elok nan indah yang berduri wahai sang pujaan hatiku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: