bertaqarrub-1Doa adalah permohonan Sang Hamba kepada Khaliqnya (Allah). Dalam sebuah doa ada banyak pengharapan akan adanya solusi yang terbaik untuk menjalani hidup untuk lebih baik dari pada sebelumnya. Kurindukan tetesan air mata dalam setiap doa pasti menghinggapi semua orang tak terkecuali siapapun itu.

“aku merindukan tetesan air mata saat bermunajat kepadaMu
aku merindukan tetesan air mata saat aku memohon ampunan-Mu
aku merindukan tetesan air mata saat mengharapkan Rahmat dan Ridho Mu
aku merindukan tetesan air mata saat ingat akan dosa-dosaku
aku merindukan tetesan air mata saat Mensyukuri Nikmat Mu
aku merindukan tetesan air mata dalam taubatku
aku merindukan tetesan air mata untuk kelalaianku dalam Sholat
aku merindukan tetesan air mata saat berdzikir menyebuat Asma Mu
aku merindukan tetesan air mata saat bersholawat untuk Nabi Mu
Ya Rahman begitu sulitnya air mata ini menetes di saat aku memohon kepadamu di karenakan hatiku yang selama ini angkuh Astaghfirullah, Astaghfirullah,Astaghfirullah, aladzim
Ya Rahim Yaa Lathif Lembutkanlah hatiku bersihkanlah hatiku dari kerak-kerak dosa yang selama ini menutupi Qolbuku Ya Rahman Ya Rahim Ya Aziz Ya Jabbar Ya Mutakabbir Ya Tawwab
Robbana atina fiddunya hasanah,wafill akhirati hassanaa waqinna azabannar”

Dikabulkan atau tidak, semuanyat terserah kepadaNya. Tetapi, Allah (Sang Klaliq) telah memberi jaminan, bahwa setiap doa yang dipanjatkan oleh seseorang atau sekelompok orang dari hamba Allah akan dikabulkan olehNya dengan prasyarat yang jelas. Prasyaratnya sederhana: “memenuhi segala perintah Allah dan beriman kepadaNya”. Sederhana, bukan?

Tetapi, sesederhana apapun itu, menjadi orang yang bisa memenuhi segala perintah Allah dan beriman kepadaNya, bukanlah sesuatu yang mudah. Setuju?

Disebutkan dalam sebuah hadist, bahwa ada satu komunitas dari tujuh komunitas khusus yang  selalu akan mendapatkan naungan perlindungan dari Allah di ketika tiada lagi perlindungan dalam bentuk apa pun dari, oleh dan bagi siapa pun selain perlindungan dari Allah sendiri kepadanya, yaitu: “komunitas yang senantiasa berkemauan dan berkemampuan untuk memanjatkan doa-doanya kepada Allah dengan ‘mata-hatinya’, sehingga di saat ia mmanjatkan doa-doanya secara spontan berlinanglah air matanya karena sikap ihsânnya. Ia ucapkan doa-doanya dari lubuk hatinya yang terdalam, hingga ia sadar bahwa ia tengah berhadapan langsung dengan Tuhannya (Allah) yang selalu menyimak dengan seksama seluruh rangkaian ungkapan kata-hatinya. Ia pun menangis di hadapan Allah, dengan sikap rajâ’ dan khauf (harap dan cemas).

Saat ini masih banyak orang menyangka bahwa air mata adalah simbol ’ketidak-berdayaan’. Orang yang sering meneteskan air matanya, bahkan dianggap sebagai makhluk yang ’cengeng’. Kucuran air mata bahkan seringkali diberi stigma ”negatif”, ”lemah, dan ”rapuh”.  Namun, bila kita cermati ternyata tidaklah sesederhana itu. Air mata bisa saja menandai sikap “terbaik” seseorang hamba ketika bermunajat kepada Allah. Anda dipersilakan untuk banyak membaca. dan setelah membaca serta mengeksperimentasikan sebagian besar hasil bacaan itu, Anda akan semakin percaya dan bahkan  ’haqqul yaqîn’ untuk menyatakan bahwa sebagain kucuran  air mata setiap orang yang berdzikir untuk Alllah dengan ’khusyu’’, merupakan alarm(sinyal) akurat dari anugerah yang tak ternilai dari Allah. Menangis karena Allah merupakan bukti dari kehadiran Allah pada hati  yang ’bersih’ (berjiwa ikhlas). Kita pun bisa berkata, bahwa setelah kita membaca lembaran hidup kita sendiri, mencermati apa yang dikatakan oleh siapa pun tentang diri kita, atau bahkan berempati terhadap penderitaan orang lain, tanpa sadar tiba-tiba air mata kita pun menetes. Bahkan, dalam pengalaman hidup kita, sebuah kabar yang sangat menyenangkan diri kita pun, terkadang mengakibatkan air mata kita mengalir deras. Dan, yang paling sering seseorang alami, hal itu terjadi pada saat seseorang yang tengah ”berdoa” di antara shalat-shalat yang ia lakukan. Hingga seseorang seolah-olah bisa berteriak di dalam hatinya: ”berbahagialah siapa pun yang selalu berdzikir dengan tetesan air mata, karena ia ’sadar’ bahwa Allah tengah bersamanya.

Semua orang mungkin pernah mengalami seperti apa air mata anda mengalir. ”Ketika cobaan datang dan menyesakkan dada, anda pun menangis. Melihat kepedihan orang lain dan mencoba berempati dengan berandai-andai, bahwa andalah yang menanggung kepedihan itu secara tak sengaja air mata anda pun bisa menetes. Dan, yang sungguh luar biasa, andaikata tetesan air mata itu berlanjut di ketika mengingat Allah dengan berdoa untuk keselamatan kesejahteraan bagi orang-orang yang tengah menderita, Anda pun ”menangis”, bisa beramakna anda adalah orang yang “lembut-hati”.

Dan saatnya kini Anda berdoa:

“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun, maafkan keangkuhan hamba. lembutkan hati hamba untuk bisa merasakan semua ketentuan-Mu tanpa harus bersedih. Kuatkan sinyal hati hamba ini agar selalu bisa menangkap dengan cerdas semua sinyal kebesaran-Mu tanpa harus merasa kecil hati, lemah, dan takut. Jadikanlah air mata kami sebagai tanda kedekatan kami kepada-Mu. Sapulah mendung kepedihan dalam diri kami. Ringankan semua penderitaan kami, yang begitu banyak datang silih-berganti di muka bumi ini. Peliharalah kami — ya Allah – dari segala macam godaan setan, dan mudahkanlah bagi diri kami untuk menggapai dan mengamalkan petunjuk-Mu. Jadikan – sejak saat ini juga –air mata kami mengalir bersama doa-doa kami, karena kami selalu mengingat-Mu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: