wpid-rural-crossroads12

 

JIKA NAFAS KEHIDUPAN KAMI DALAM PERSIMPANGAN DOSA. TUNJUKANLLAH KAMI KE JALAN-MU YANG LURUS. JANGANLAH ENGKAU BIARKAN KAMI DALAM SENYUM TAK SADAR DIKUBANG DOSA DAN MA’SIAT. BERILAH KEKUATAN DAN ISTIQOMAH DALAM MENJALANKAN AMALAN YANG UTAMA INI YA RABBI…LIMPAHKANLAH BERKAH DAN KESEJAHTERAAN SAAT KAMI DILAHIRKAN,HIDUP DAN SAAT DIBANGKITKAN KEMABALI. TERIMALAH SHOLAT KAMI DAN TAUBAT KAMI ATAS DOSA-DOSA DIMASA GELAP KAMI.

Kehidupan sejatinya adalah sebuah perjalanan.
Perjalanan panjang untuk menuju kampung halaman idaman;
Perjalanan yang lama dan melelahkan demi mencapai sebuah tujuan; Perjalanan yang berliku dan penuh ancaman di setiap langkah kehidupan.

Akan halnya sebuah perjalanan, kehidupan pun tak selamanya dilalui dengan lancar/bebas hambatan. Ada kalanya kita hanya bisa terdiam, terhenti dan tertahan – tanpa bisa terus berjalan. Seperti layaknya pengendara sepeda motor yang menunggu “lampu hijau” di traffic light, atau laksana pejalan kaki yang menanti waktu yang tepat untuk bisa menyeberang jalan. Ya, hidup kita, di sepanjang perjalanan yang telah-sedang-dan akan terus kita tempuh senantiasa dihadapkan pada “persimpangan jalan”. 

 

Setiap lembar kisah perjalanan kehidupan kita di atas muka bumi ini tak mampu menafikan adanya suatu masa, sebuah fase, dimana kita lebih cenderung bersifat statis-pasif-(bahkan) konservatif. “Persimpangan jalan” yang ada pun kadang-kadang memaksa kita untuk menjadi ragu, bisu, kaku hingga takut untuk memutuskan “ke mana kaki harus melangkah”. Alih-alih meneruskan perjalanan yang masih panjang membentang, “persimpangan jalan” tersebut bisa saja membuat perjalanan kita tersendat-sendat, terlambat, bahkan gagal total!

Begitu banyak, amat sering, dan terlampau luas eksistensi “persimpangan jalan” ini dalam hidup kita sehari-hari. Ketika seorang pejabat dengan segala kewenangan dan kekuasaan jabatannya dihadapkan pada pilihan KORUPSI atau TIDAK-KORUPSI, di saat itu ia sebenarnya ada di “persimpangan jalan”. Ketika seorang ilmuwan dengan segala kapasitas ilmunya diharuskan memilih antara berlaku JUJUR/AMANAH dan BOHONG/KHIANAT sesungguhnya ia pun sedang berada di “simpang jalan”. Bahkan, ketika seorang jejaka merasa bimbang antara sikap MENYATAKAN CINTA ataukah HANYA TERDIAM SAJA terhadap dara yang didambanya, itupun sebuah ilustrasi “ke-simpang-an pilihan”.

Tidak hanya berhenti disitu saja, Kawan!
Seringkali pilihan yang kita hadapi -dan harus kita pilih- ketika kita berada di “persimpangan jalan” bukanlah sebuah pilihan boolean belaka, melainkan sebuah pilihan dengan multi-dimensi, multi-variabel/parameter, dan multi-implikasi. Inilah yang membuat pilihan kita menjadi rumit. Ini pulalah yang bisa melumpuhkan semangat juang kita – yakni ketakutan akan kenyataan bahwa: terdapat begitu banyak alternatif yang harus kita pilih; terdapat begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan; terdapat begitu banyak peluang melakukan satu kesalahan.

Mari kita ambil sebuah contoh.

Awalnya adalah ayah kita. Suatu waktu ia dihadapkan pada pilihan (baca: berada di persimpangan jalan) untuk menikah. Untuk menikah, ia tentunya harus memilih siapa wanita yang akan menjadi calon istrinya – ibu bagi anak-anaknya. Disini, sang ayah bisa saja sudah kebingungan karena harus memilih 1 dari sekian milyar kaum hawa di bawah kolong langit ini (wow, Anda bisa bayangkan betapa banyaknya itu). Oke lah, populasi pilihan bisa saja merosot tajam – kalau ayah kita memfokuskan “area berburu” di komunitas tertentu saja: entah di lingkungan kantor, lingkungan sekolah, atau lingkungan kelurahan. Anggaplah setiap lingkungan tersebut memberikan kandidatnya masing-masing. Seorang rekan kerja wanita yang menawan, seorang kawan lama di sekolah yang cerdas, dan anak gadis pak Lurah. [Ingat,] setiap kandidat tersebut memiliki karakternya masing-masing dan membawa atribut yang berbeda-beda. Ayah kitalah yang paling bertanggung-jawab atas segala konsekuensi atas pilihan yang dijatuhkannya.

Maka, apa yang terjadi ketika sang ayah menikahi dan kemudian berumah tangga – yang pada gilirannya akan melahirkan dan membentuk kita – dengan salah satu dari ketiga kandidat tersebut akan sangat berbeda untuk tiap-tiap skenario pernikahan. Kita, adalah produk dari lingkungan sekitar kita – dan dalam hal ini yang saya sebut sebagai lingkungan adalah lingkungan terkecil kita: keluarga (atau, yang secara khusus dapat diwakili oleh entitas “Ayah-Ibu”).

Maka, seharusnya Anda bisa membayangkan beberapa kemungkinan yang dapat terjadi berdasarkan satu-fase-kecil dalam kehidupan seseorang. Dimana kita berada pada satu kondisi – yakni dihadapkan pada beberapa pilihan yang berbeda-beda – untuk menentukan 1 pilihan di antara n variabel-pilihan. Jelaslah, satu keputusan yang diambil dalam satu titikdalam ‘garis-panjang’ perjalanan hidup seorang manusia bisa memengaruhi – atau bahkan – merubah konfigurasi, bentuk, danorientasi dari goresan-tinta atas ‘garis-panjang5 kehidupan’nya.

Bagaimana, Kawan? Saya harap Anda belum bosan bersama saya. Mungkin Anda bertanya-tanya: “apa gerangan yang ingin kau sampaikan, anak muda?”. Sabar, wahai Kawan. Sebentar lagi saya akan mengutarakan maksud di hati yang tersisa…

Uraian panjang di atas hanya menggambarkan kepada kita begitu peliknya kehidupan yang harus kita jalani ini. Ilustrasi cerita sebelumnya menunjukkan bahwa rentetan perjalanan kehidupan ini tersusun dengan begitu kompleks –  sangat kompleks. Lalu, mungkin Anda menjadi gusar dan kemudian bertanya. “apa yang harus kita lakukan di tengah kehidupan yang serba pelik nan kompleks ini? Kami juga tahu bahwa hidup sekarang itu serba-susah dan penuh misteri!”.

Dan, inilah pesan-utama yang ingin saya sampaikan padamu, wahai Kawan!

“Anda tidak diciptakan untuk menjadi orang susah, makhluk celaka, tidak juga hamba yang sengsara! Engkau diberikan ke-hidup-an bukan dengan maksud agar hidupmu Engkau habiskan hanya di ‘persimpangan jalan’. Namun, sesungguhnya Engkau diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan, setinggi-tingginya kemuliaan, demi mereguk kenikmatan-kebahagiaan-kemenangan! Engkau telah dianugerahi nafas untuk hidup, agar Engkau sanggup men-ja-lan-i ke-hi-dup-an ini dengan baik danselamat. Karena, ‘hidup itu untuk dijalani’, maka ‘berjalanlah’! Dan, hanya orang-orang yang berjalanlah yang dikatakan benar-benar ‘hidup’. Berjalanlah terus, dan janganlah memperpendek umurmu dengan sering berhenti di persimpangan. Sekali lagi, berjalanlah! Karena…”

Hanya orang yang telah menempuh perjalanan jauh lah, yang akan melihat jalan panjang menuju kampung halaman idaman. Hidup adalah perjalanan. Dan, perjalanan seorang muslim tidak akan pernah berhenti sampai ia berada di depan gerbang Surga.

 

Iklan

Comments on: "Persimpangan Jalan Kehidupan, A atau B" (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: