Sebuah Kursi Penantian

penantian

Dibawah tikaman terik Mentari, sebuah insan teduh menepih.
Jiwanya di bakar oleh barahan api rindu yang mencekam.
Ia larut dalam ingatan kenangan yang perna tersirat oleh waktu.
Kenangan itu berisyaratkan tentang arti dari sebuah nilai,
Nilai yang terpatri dalam catatan sejarah hidupnya.
Nilai itu erat identiknya dengan sebuah kursi dan beberapa anak manusia.

Satu demi satu puing-puing kenangan itu, ia ambil, diubahnya
Menjadi sebuah prasasti indah demi keabadian kisah itu.
Diatas tembok prasasti kenangan itu, tertulis namanya dan sebuah nama,
Nama yang selalu ia kenang dalam buku dirinya.

Acap kali ia bertanya-tanya pada saksi bisu,sebuah kursi itu,
Kapankah akhir dari penantiannya ? 
Apakah penantian itu akan berujung indah ?
Apakah sang waktu akan bermurah hati padanya ?
Namun kursi panjang hanya membisuh diam tak bergumang.

Dalam gelora rindu di lautan penantian yang dalam,
ia bernazar pada Langit, akan dipahatnya nama itu dengan tinta emas diatas dinding langit.
Pada Bumi ia berkata, Bumi akan mencatat kisah itu dalam diary keabadian milik sang waktu.

Ia masih tetap teguh dalam keyakinannya,sebab iya tahu !
Bahwasanya Kursi itu tak selamanya akan membisu
,kelak kenyataan akan berbicara dalam kata yang tak terucap,
rangkaian kata damai akan terdengar indah menyejukkan hati para penanti,
pertemuan kembalipun akan menghapus bersih penantian panjang itu,
Namanya dan sebuah nama itu akan selalu abadi tercatat diatas prasasti itu.

Kapankah akhir penantian suatu nama yang akan terukir di prasasti kehidupan itu hadir dan mengisi kekosongan hati ini,

Dear you,

Aku akan menenemuimu dan membawakan sebauh cincin pengikat cinta kita, tapi bukan hari ini karena saat aku masih mengetik kata ini dan masih mencarimu. Aku akan datang padamu bersama sejuta mimpi yang tercipta dari gabungan mimpimu dan mimpiku yang akan aku coba rajut bersama. Kita akan melewati malam yang indah, Bersama menatap indahnya bintang yang kita paksa untuk pergi dari asterimanya, memaksa pelangi untuk hadir meski tanpa bias mentari dan memaksa bulan untuk abit meski ia telah purnama. Aku akan menunggu hadirmu dikursi tua, tempat awal aku menantimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: