Archive for the ‘news’ Category

Mobil Kepresidenan dari Era Soekarno Hingga Jokowi


Ide memang datang tak mengenal waktu dan temapt. Tadi pagi, tepatnya setelah sholat subuh biasa rutinitas berangkat pagi secara tak sengaja melihat mobil teronggok begitu saja kayak udah dijadiin pajangan karena penuh dengan debu, roda tinggal velk dan kaca sudah hilang dsb. Kalau diceritain malahan fokus ke mobil itu. Mobil merupakan alat transportasi yang dikenal sudah lama sebelum kemerdekaan RI. Penemu atau penggas mobil pertama kali di dunia adalah seseorang yang berasal dari Negara Perancis pada tahun 1879 tidak lain lagi yaitu Nicolas Joseph Cugnot. Berbicara tentang mobil disini akan membahas tentang Mobil Kepresidenan yang di kendarai . Berikut mobil Keprisidenan dari masa ke masa :

1. Buick-8

Buick adalah Mobil Kepresidenan Republik Indonesia yang pertama digunakan pada masa setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Digunakan sebagai kendaraan Dinas Presiden RI pertama Soekarno terutama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia antara 1945-1949. : readmore,…

Iklan
Gambar

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H, Minal Aidzin Wal Faidzin

PicsArt_1406386653297

Renungan Tetesan Air Mataku Sebagai Anak

keluarga-bahagiaDi dalam dunia yang indah ini terisilah oleh segelintir mahluk-mahluk Allah s.w.t terutama manusia, manusia yang tercipta dengan keindahan dan kesempurnaan melainkan mahluk-mahluk lainnya, punya cinta dan juga mempunyai kasih sayang. Sebuah ketulusan cinta yang membuat kita besar hingga hari ini, sebuah kesucian cinta yang membuat kita besar bahkan bisa tersenyum lepas dan menikmati anugrah-anugrah Allah s.w.t lainnya.

Sebuah langkah kaki perlahan yang mengantarkan kita di dalam sebuah perjalanan tak terlepas dari peran dan cintanya orang tua, meski tersadari terkadang ada sebagian orang tua yang mewujudkan kecintaan dan kasih sayangnya terhadap kita melalui perlindungan yang sering kali kita menyangka bahwa mereka tidak menyayagi kita, namun apakah kita tau bahwa bahagia kita adalah sebuah surga yang membuat air mata mereka terjatuh bahagia, namun ketika kesedihan menghinggapi kita apakah kita pernah tau itu adalah sebuah pilu bagi mereka.

Mereka yang selalu ingin membuat kita bahagia walaupun mereka harus tertatih untuk melakukannya, namun ketika  kita melawan terhadap mereka,apakah mereka dendam kepada kita? Sebuah kasih sayang yang tak pernah kan terbalas dengan perbuatan dan perlakuan kita kepada mereka, apakah kita tau ketika kita kecil, orang tua kita sedang makan namun seketika itu kita menangis dan merengek karena kita buang air besar, namun karena ketulusannya  mereka meletakan nasi dan segera mengambil kita kepangkuanya dan membersihkan kita dan mendiamkan kita, begitulah besar cinta mereka seperti abu yang bertebaran yang tak terhingga  jumblahnya, namun ketika kita sedewasa ini, berapa kali kita mengoceh ketika orang tua kita meminta sebuah pertolongan?Berapa kali kita menghardik mereka ketika kemauan kita tidak mampu untuk mereka wujudkan?

Sebuah hasrat yang menghampiri kita yang terkadang orang tua kita tak mampu untuk memenuhinya, namun pernakah kita tau ketika hati mereka tersipu perih ketika mereka tak mampu mewujudkan apa yang kita inginkan, dengan berjuta akal mereka mencarikan dan berusaha untuk mewujudkan keinginan mereka, namun ketika semua telah dapat mereka wujudkan untuk mereka apakah kita pernah untuk Berterima Kasih Dengan Memeluk Dan Mencium Pipinya?

Hingga sebesar ini apa yang telah kita berikan untuk mereka,? dimana kulit-kulit di sekujur tubuh mereka sudah mulai keriput dimana terkadang kita sering minder atau malu ketika berjalan dengan mereka? Namun apakah mereka pernah malu ketika mereka mempunyai anak seperti kita? Seorang anak yang selalu mengoceh terhadap apa yang mereka pinta dari kita? Mereka hanya meminta sebuah pertolongan kecil yang sanggup kita kerjakan, yang mereka pun telah sulit untuk mengerjakan hal itu. Lagi-lagi kata ah, malas yang terucap di bibir kita, sering kali kita pergi meninggalkan mereka sedang berbicara memberikan sebuah masukan kepada kita.

Semua rahmat tuhan tercurah didalam keridhoan orang tua kita, di dalam bulan yang suci ini apa yang telaah kita perbuat untuk membahagiakan orang tua kita?

Mungkin penulis(saya sendiri) tidak lah sempurna untuk membahagiakan orang tua, namun saya hanya mengajak dan mengimbau kembali kepada teman-teman pembaca,

apa yang telah kita bisa lakukan untuk membahagiakan orang tua kita? Mencuci kaki mereka, memeluk dan mencium mereka? Atau bahakan kita akan kembali kekebiasaan kita yang selalu mengeluh dan melawan kepada orang tua kita? Atau haruskah kita melihat mereka meninggalkan dunia ini dahulu baru kita merengek untuk berdoa kepada tuhan agar allah s.w.t menghidupkan mereka kembali dan kita berjanji akan membahagiakan mereka?

Mohon maaf untuk teman-teman yang apabila orang tuanya telah tiada mari kita doakan, ini hanyalah sebuah tulisan saya yang akan terlupakan kelaknya, namun melalu tulisan ini saya hanya mengajak dan merenungi kembali. Bapak & Ibu terimakasih atas semuanya, kalianlah pahlawanku sampai kapanpun, dan takakan tergantikan.

Sejarah akan Air Zam-Zam

Kisah penggalian dan terpancarnya air zam-zam yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan untuk umat manusia, sangat masyhur dan terkenal.

Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Nabi Ismail, di saat Ismail masih dalam susuan ibunya, lalu ia meninggalkan keduanya di bawah sebuah pohon yang rindang di dekat zam-zam. Di Mekah saat itu tidak ada tumbuh-tumbuhan dan sumber mata air. Nabi Ibrahim hanya membekali mereka 1 kantong kurma dan 1 kendi air. Kemudian Nabi Ibrahim memalingkan tubuhnya untuk berangkat meninggalkan keduanya. Hajar pun mengikutinya seraya berkata, “Kemanakah engkau hendak pergi? Dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada penghuni dan apapun juga?” Ia mengulang-ulang ucapannya, tetapi Nabi Ibrahim terus berjalan tanpa menoleh.

Lalu Hajar berkata, “Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyuruhmu melakukan hal ini?” Nabi Ibrahim berkata, “Ya.” Hajar berkata, “Jika demikian pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kemudian Hajar kembali ke tempat Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim pun terus berlalu, hingga ketika ia sampai di Tsaniyah yang ia tidak melihatnya lagi, ia menghadap ke Baitullah, kemudian mengangkat kedua tangannya seraya berdoa:

Ya Tuhan kami! Sesungguhnya aku menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanam di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami! Yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Maka Hajar menyusui Ismail dan minum dari air dalam kendi tersebut, hingga airnya habis dan Ismail kehausan. Ia melihat anaknya meronta-ronta. Pemandangan tersebut membuatnya tak sanggup melihatnya, dan iapun pergi mencari air. Ia dapati bukit Shafa dataran tinggi yang paling dekat dengannya, lalu ia mendakinya dan menghadap ke lembah. Ia berharap melihat seseorang, tetapi ia tidak melihat siapapun.

Kemudian ia turun dari buki Shafa hingga sampai di lembah. Ia mengangkat ujung kainnya kemudian berlari-lari kecil seperti orang yang kelelahan hingga melewati lembah. Lalu ia mendaki bukit Marwa dan berdiri di atasnya, dan melemparkan pandangannya ke segala arah, ia berharap menemukan seseorang, tetapi ia tidak melihat siapapun melakukan hal ini sebanyak tujuh kali.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Karena inilah manusia melakukan sa’i antara kedua bukit tersebut.”

Di saat ia masih melemparkan pandangannya dari atas Marwa, ia mendengar suara, lalu berkata pada dirinya, “Diam!” kemudian ia diam, ternyata ia mendengar suara lagi.

Lalu ia berkata, “Engkau telah memperdengarkan suaramu! Apakah engkau dapat menolongku?” Tiba-tiba ada malaikat di tempat zam-zam, lalu malaikat tersebut menggali tanah dengan sayapnya, hingga muncullah air.

Lalu Hajar memagari air tersebut dengan pasir agar terkumpul dan menciduk air dengan tangannya lalu memasukkannya ke dalam kendi. Mata air itu meresap ke dalam tanah setelah diciduk.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Andai Hajar membiarkan zam-zam mengalir, atau beliau berkata, ‘Andai Hajar tidak menciduknya, niscaya zam-zam menjadi telaga yang mengalir’.”

Lalu Hajar minum dan menyusui anaknya.

Lalu malaikat berkata kepadanya, “Jangan engkau merasa disiakan, karena sesungguhnya di sini akan ada Baitullah yang nantinya dibangun oleh anak inid an bapaknya, dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan keluarganya.”

Lenyapnya Sumur Zam-Zam

Kemudian sumur zam-zam lenyap dan tanda-tandanya hilang dengan berlalunya hari dan bergantinya malam.

Yaqut al-Hamawi berkata: “Dengan bergantinya hari, sehingga banjir dan hujan membuat telaga zam-zam lenyap, dan tidak ada tanda-tanda untuk mengetahuinya lagi.”

Pendapat yang benar bahwa zam-zam ditimbun dan dihilangkan tanda-tandanya oleh suku Jurhum di saat mereka akan meninggalkan Mekah.

Abdul Muththalib Menggali Kembali Sumur Zam-Zam

Telaga zam-zam terus lenyap dari permukaan dan tidak diketahui tempatnya, hingga Abdul Muththalib memangku jabatan sebagai pemberi makan dan minum jama’ah haji. Suatu ketika ia didatangi di dalam tidurnya, lalu orang tersebut berkata, “Galilah thayyibah (sumber kebaikan)!”

Abdul Mutthalib berkata, “Apa itu thayyibah?” Keesokan harinhya ia didatangi lagi dan orang itu berkata, “Galilah barrah (sumber manfaat).”

Abdul Mutthalib berkata, “Apa itu barrah?” Keesokan harinya ia didatangi lagi dan orang itu berkata, “Galilah alMadhnunah (sesuatu yang dikikirkan)?”

Abdul Muththalib berkata, “Apa itu alMadhnunah?” Lalu orang tersebut berkata, “Galilah zam-zam!” Orang tersebut berkata, “Yaitu sumur yang tak pernah kering airnya, dan tak pernah habis, engkau akan dapat memberi minum berapa pun jumlah jamaah haji. Terletak di antara kotoran dan darah (tempat penyembelihan hewan untuk sesajian ke Ka’bah). Tepatnya di mana seekor gagak yang bersayap putih mematuk (hewan sesajian). Telaga ini nantinya menjadi kebanggaanmu dan anak keturunannya.

Dan memang burung gagak bersayap putih selalu mematuk hewan sesajian di tempat darah dan kotoran. Lalu keesokan harinya Abdul Mutthalib membawa cangkul dan belindung. Ia berangkat bersama anaknya al-Harits. Di hari itu anaknya, hanya al-Harits, mereka terus bertakbir dan berkata: “Ini sumur Ismail.”

Orang-orang Quraisy berkata: “Ikutkan kami menguasainya!” Abdul Muthalib berkata, “Aku tidak akan melakukannya, ini khusus untukku. Kalau kalian tidak puas, carilah orang untuk mengadili kita!”

Mereka berkata, “Wanita tukang tenung di bani Sa’ad.” Lalu mereka berangkat menuju wanita tersebut. Di tengah perjalanan mereka dilanda kehausan yang sangat dan mereka nyaris mati.

Maka Abdul Muththalib berkata, “Demi Allah! Sikap pasrah ini kelemahan, kenapa kita tidak berusaha mencari air? Semoga Allah memberi kita air. Merekapun bersiap-siap berpencar mencari air, dan Abdul Muththalib mulai menunggang kendaraannya. Ketika ontanya bergerak, terpancar dari bawah kuku ontanya air tawar, sekonyong-konyong Abdul Muththalib bertakbir, dan para sahabatnya ikut bertakbir lalu mereka semuanya meminum air tersebut.”

Dan mereka berkata kepada Abdul Muththalib, “Orang yang menginformasikan tentang sumur zam-zam telah memutuskan perkara kita, Demi Allah! Selama-lamanya kami tidak akan menghujatmu. Lalu mereka kembali dan merelakan zam-zam dikuasai oleh Abdul Muththalib.

Nama-Nama Sumur Zam-Zam

Banyak hadis dan atsar mengenai yang menjelaskan tentang keutamaan air zam-zam. Salah satu bukti yang menunjukkan keutamaan zam-zam adalah saat Jibril membelah dada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia membasuh hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan air zam-zam.

Jika memang ada air yang lebih baik darinya, tentulah Jibril membasuh hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan air tersebut.

Diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

Atap rumahku dibuka saat aku berada di Mekah, lalu Jibril turun dan membelah dadaku kemudian ia membasuhnya dengan air zam-zam. Lalu ia membawa bejana besar terbuat dari emas berisi hikmah dan keimanan, dan menuangkannya ke dalam dadaku, kemudian ia menutupnya. Lalu ia memegang tanganku, dan membawaku ke langit.”

Menurut hadis yang diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sedang bermain bersama beberapa anak laki-laki. Ia membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjatuhkan beliau ke tanah, kemudian ia mengeluarkan hatinya, membekahnya dan mengeluarkan gumpalan darahnya. Jibril berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.” Lalu ia membasuhnya dengan air zam-zam, menyusunnya dan mengembalikannya lagi ke tempat semula. Anak-anak yang melihatnya datang ke ibu susu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Muhammad telah dibunuh!” Kemudian mereka pergi untuk melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka menemukan beliau yang terlihat pucat.

Anas radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah melihat tanda bekas jahitan di dada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tentang keutamaan air zam-zam juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Air yang paling baik di permukaan bumi adalah air zam-zam. Ia mengandung makanan bergizi dan menyembuhkan sakit. Air yang paling buruk di permukaan bumi adalah air Lembah Barahut di Hadramaut. Permukaannya berkutu yang terlihat seperti kaki belalang. Ia mengalir pada pagi hari dan mengering pada malam hari.”

Mujahid berkata, “Aku tidak pernah melihat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu memberi makan seseorang kecuali ia juga memberikan air zam-zam untuk diminum.” Ia juga mengatakan setiap kali tamu datang berkunjung, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu akan menjamunya dengan air zam-zam.

Di antara keutamaan air zam-zam adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan siapa yang meminumnya sampai kenyang adalah sebagai pembersih dari sifat munafik.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

Tanda yang membedakan antara kita dengan orang-orang munafik adalah bahwa mereka tidak minum zam-zam sampai kenyang.”

Catatan: Sangat dianjurkan (mustahab) untuk berwudhu, dan sebagainya dengan air zam-zam.

Diriwayatkan dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta seember air zam-zam, lalu beliau meminumnya dan memakainya untuk berwudhu.

Dalam Musnad Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan 3 putaran thawaf, dimulai dan diakhiri pada Hajar Aswad, kemudian beliau shalat dua rakaat, lalu kembali lagi ke Hajar Aswad, kemudian pergi ke zam-zam dan meminumnya serta menuangkan sebagiannya ke kepala beliau.

Air Zam-Zam Adalah Obat

Dijelaskan dalam hadis-hadis shahih, bahwa ada obat yang menyembuhkan pada air Zam-zam. Ini juga dibuktikan dari riwayat yang populer, baik di kalangan umat terdahulu maupun sekarang. Di mana AllahSubhanahu wa Ta’ala menyembuhkan orang dari penhyakit, saat semua obat tidak dapat menyembuhkannya dan dokter gagal untuk mengobati pasiennya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

Air yang paling baik di permukaan bumi adalah air zam-zam. Ia mengandung makanan yang bergizi dan menyembuhkan penhyakit.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Air zam-zam sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.”

Jadi, jika seseorang meminumnya dengan tujuan untuk mengobati penyakitnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyembuhkannya dengan keagungan-Nya.

Abu Hamzah berkata, “Aku menghindar dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dan aku tidak menjenguknya beberapa hari.” Ia berkata, “Apa yang membuatmu menghindar dariku?” Aku menjawab, “Aku demam.” Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

Demam adalah merupakan angin panas dari neraka Jahannam, maka dinginkanlah ia dengan air zam-zam.”

Qais bin Kurkum berkata; bahwa ia bertanya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu: ‘Maukah engkau memberitahukan aku mengenai zam-zam?” Ia menjawab: “Airnya tidak akan pernah kering dan tidak akan berkurang mengandung makanan bergizi dan menyembuhkan penyakit dan merupakan air yang terbaik yang kami ketahui.”

Zam-Zam Adalah Makanan

Menurut hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Air zam-zam sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.”

Abu Dzar radhiallahu ‘anhu dapat hidup selama sebulan penuh tanpa memasukan apapun ke lambungnya kecuali hanya meminum air zam-zam, tetapi ia tidak merasa lapar.

Dalam kitab shahih diriwayatkan; Saat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu telah memeluk Islam, dia berkata, “Ya Rasulullah, saya berada di sini selama 30 hari,” Beliau bersabda, “Siapa yang memberimu makan?” Ia berkata, “Aku tidak mempunyai makanan apapun juga terkecuali air zam-zam tetapi berat badanku bertambah sehingga aku dapat merasakan lipatan lemak pada perutku, dan aku tidak merasa lapar sama sekali.” Lantas beliau bersabda:

Zam-zam diberkahi dan mengandung makanan bergizi.”

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata mengenai zam-zam: “Kami bisa menamakan zam-zam dengan ash-shabba’ah (berarti memuaskan), yang paling baik untuk diberikan kepada seorang anak.”

Kisah Tentang Sembuhnya Penyakit Karena Air Zam-Zam

Ada puluhan, bahkan ratusan kisah tentang bagaimana orang yang menderita suatu penyakit, di mana dokter telah putus harapan terhadap kesembuhannya, tetapi dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’alamereka dapat diobati dengan air zam-zam, dan khasiatnya yang tersembunyi, dan mereka menjadi orang yang sangat sehat dan bugar.

Kami akan memberikan salah satu contoh yang diambil dari era modern ini:

zam-zamIni merupakan kisah populer di zaman sekarang ini, yang bersangkutan masih hidup di tengah-tengah kita. Yang membuktikan dan menunjukkan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membuktikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa zam-zam adalah sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya. Dan air zam-zam dapat menyembuhkan penyakit dan mengandung makanan yang bergizi.

Ini kisah tentang Laila al-Hilw, dari Maroko. Laila menderita kanker. Selama ini ia mengabaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena bangga akan keadaannya yang sehat dan cantik.

Setelah ia mengetahui bahwa ia sakit, ia pergi ke Belgia. Di sana ia diberitakan bahwa ia tidak punya pilihan lain kecuali payudaranya harus diangkat dan menjalani kemoterapi, yang akan menyebabkan rambutnya rontok dan tumbuh janggut, dan juga dapat membuat ia kehilangan kuku dan giginya.

Ia menolak melakukan pengobatan tersebut dan meminta pengobatan yang lebih ringan, kemudian ia kembali ke Maroko.

Tetapi setelah 6 bulan berat badannya turun dengan drastis dan tubuhnya pegal-pegal karena rasa sakit sehingga ia kembali lagi ke Belgia. Di sana dokter menginformasikan kepada suaminya bahwa penyakitnya telah menyebar, bahkan sampai ke paru-paru, dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya.

Mereka menyarankan untuk membawanya pulang agar ia dapat meninggal di tempat tinggalnya. Namun suami Laila ingat sesutatu yang selama ini ia lupa; Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan padanya suatu gagasan untuk mengunjungi Baitullah yang mulia.

Kemudian ia dan istrinya pergi ke sana, laila menangis tersedu-sedu saat ia melihat Ka’bah. Ia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tidak menghancurkan harapannya dan untuk mengejutkan dokter dengan kasusnya.

Laila mulai membaca Alquran dan meminum air zam-zam. Ia merasakan ada ketenangan dan kedamaian pada saat berada di Baitullah. Ia meminta kepada suaminya untuk membiarkannya tinggal di Masjidil Haram dan tidak kembali ke hotel.

Kemudian ia tinggal di sana (i’tikaf). Setengah bagian atas tubuhnya telah penuh dengan tumor dan membengkak yang menunjukkan penyakitnya telah menyebar. Para wantia yang melihatnya di Masjidil Haram menyarankan untuk selalu membasuh tubuh bagian atasnya dengan air zam-zam, tetapi ia takut untuk menyentuh tumor yang ada di tubuhnya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk memulai membasuh tubuh dan payudaranya yang penuh dengan darah dan nanah dengan air zam-zam.

Kemudian peristiwa yang sangat mengejutkan terjadi; seluruh tumor yang ia derita hilang dan tidak ada lagi rasa sakit serta nanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyembuhkannya dengan khasiat yang tersembunyi pada air zam-zam.

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata benar saat beliau bersabda, “Di dalamnya terdapat makanan yang bergizi dan dapat menyembuhkan penyakit.”

Sumber: Sejarah Kota Mekah oleh Syaikh Syaifurrahman Mubarakfury

Indahnya Ibadah Haji di Baitullah

Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka.

Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.

Sudah tidak anehkan kawan mendengar kalimat di atas? Ya, tentu kawan sudah tahu, itulah do’a yang di ucapkan ketika anggota jama’ah haji memasuki kota suci Makkah. Di kota Mekah itulah terdapat sebuah bangunan kubus dengan ukuran 39 kaki 6 inci (kira2 11 meter;1 kaki = 12 inci = 30 cm), dan ukuran total adalah 627 kaki persegi. Ukuran dalam Ka’bah adalah 42,64×29,52 kaki (atau kira2 12,7×8,85 m). Tebal tembok adalah 3,26 kaki (kira2 97,8 cm). Lantai di bagian dalam lebih tinggi 7,22 kaki (kira2 2,1m). Bangunan itu bernama Baitullah. Baitullah adalah satu bangunan yang menjadi titik pusat bertemunya muslim diseluruh penjuru dunia.

Baitullah adalah tempat suci yang disebut juga Home of God, namun itu adalah julukannya saja, karena tidak akan pernah ada manusia yang tau dimana keberadaan Allah sang Pencipta. Tidak aneh setiap tahunnya pada bulan haji atau Djulhijah, jutaan umat muslim berbondong-bondong berdoa dan beribadah mendekati Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji.

Ibadah Haji adalah rukun islam yang Ke-5, rukun islam yang diwajibkan kepada umat muslim yang telah bercukupan dalam harta, jasmani dan rohani. Ibadah Haji merupakan ibadah paling berat di antara rukun islam lainnya, karena pengorbanannya berupa harta, fisik, dan jiwa. Orang yang beribadah haji akan diuji kesabarannya oleh Allah Swt, namun Allah Maha Adil, Allah Swt memberikan pahala yang sangat besar bagi mereka yang melaksanakan ibadah haji yang sungguh-sungguh karena Allah Swt. Semoga setiap jamaah haji pun merasakan bagaimana luasnya pelajaran yang bisa diambil dari setiap proses perjalanan haji. Sejak meniatkan diri, hingga pulang kembali. Bukan dengan gelar haji, tetapi hati yang lebih suci. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.